Rabu, 20 Mei 2009

Pranata Mangsa, Masih Penting untuk Pertanian

Oleh: Dedik Wiriadiwangsa

Selama ribuan tahun mereka menghafalkan pola musim, iklim dan fenomena alam
lainnya, akhirnya nenek moyang kita membuat kalender tahunan bukan berdasarkan
kalender Syamsiah (Masehi) atau kalender Komariah (Hijrah/lslam) tetapi berdasarkan
kejadian-kejadian alam yaitu seperti musim penghujan, kemarau, musim berbunga, dan
letak bintang di jagat raya, serta pengaruh bulan purnama terhadap pasang surutnya air
laut.

Masyarakat Jawa dan Bali menyebutnya Pranata Mangsa (Sunda), Pranoto
Mongso (Jawa) dan Kerta Masa (Bali). Pranata Mangsa dibutuhkan pada saat itu sebagai
penentuan atau patokan bila akan mengerjakan sesuatu pekerjaan. Contohnya
melaksanakan usaha tani seperti bercocok tanam atau melaut sebagai nelayan, merantau
mungkin juga berperang. Sehingga mereka dapat mengurangi risiko dan mencegah biaya
produksi tinggi.

Tabel Pranata Mangsa selama setahun:
1. Kasa (Kahiji) 22/23 Juni - 2/3 Agustus. Musim tanam palawija.
2. Karo (Kadua) 2/3 Agustus - 25/26 Agustus. Musim kapok bertunas tanam
palawija kedua.
3. Katiga (Katilu) 25/26 Agustus - 18/19 September. Musim ubi-ubian bertunas,
panen palawija.
4. Kapat (Kaopat) 18/19 September - 13/14 Oktober. Musim sumur kering, kapuk
berbuah, tanam pisang.
5. Kalima (Kalima), 13/14 Oktober - 9/10 November. Musim turun hujan, pohon
asam bertunas, pohon kunyit berdaun muda.
6. Kanem (Kagenep) 9/10 November - 22/23 Desember. Musim buah-buahan
mulai tua, mulai menggarap sawah.
7. Kapitu (Katujuh) 22/23 Desember - 3/4 Pebruari. Musim banjir, badai,
longsor, mulai tandur.
8. Kawolu (Kadalapan) 2/3 Februari. Musim padi beristirahat, banyak ulat,
banyak penyakit.
9. Kasonga (Kasalapan) 1/2 Maret - 26/27 Maret. Musim padi berbunga, turaes
(sebangsa serangga) ramai berbunyi.
10. Kadasa (Kasapuluh) 26/27 Maret -19/20 April. Musim padi berisi tapi masih
hijau, burung-burung membuat sarang, tanam palawija di lahan kering.
11. Desta (Kasabelas) 19/20 April - 12/13 Mei. Masih ada waktu untuk palawija,
burung-burung menyuapi anaknya.
12. Sada (Kaduabelas) 121/13 April- 22/23 Juni. Musim menumpuk jerami,
tanda-tanda udara dingin di pagi hari.

Catatan: Sistem pertanaman padi masih setahun sekali (IP100)
Sumber: Buku Unak-anik Basa Sunda Th.2000

Dari Pranata Mangsa itu diketahui bahwa pada bulan Desember-Januari-Pebruari
adalah musimnya badai, hujan, banjir, dan longsor. Mendekati kecocokan dengan situasi
alam sekarang.

Selanjutnya pada musim berikut yaitu Kawolu antara 2/3 Pebruari - 1/2 Maret,
bersiap-siaga waspada menghadapi penyakit tanaman maupun wabah bagi manusia dan
hewan, mungkin akibat dari banjir, badai dan longsor tersebut akan berdampak
menyebarnya penyakit, kelaparan dan sebagainya. Hal tersebut masuk akal karena
manusia atau binatang bahkan tanamanpun belum siap mempertahankan diri dari
serangan hama penyakit. Dalam keadaan lemah tersebut dengan mudah penyakit
menyerang kita.

Kaitannya dengan para nelayan, mereka melaut sambil membaca alam dengan
melihat letak bintang yang dianggap patokan yang selalu menemani mereka saat melaut.
Sudah tentu mereka mengetahui pada bulan-bulan berapa mereka saat yang baik melaut
dan akan mendapatkan ikan banyak. Sebaliknya mereka mengetahui saat-saat tidak
melaut, berbahaya dan tidak akan menghasilkan apa-apa. Pada saat-saat itulah mereka
gunakan waktu untuk memperbaiki jaring-jaring yang rusak, memperbaiki rumah dan
pekerjaan selain melaut.

Tulisan ini bukan bertujuan mengecilkan arti ilmu pengetahuan dan teknologi
modern, melainkan sebagai review untuk kita masyarakat Indonesia yang sudah
berbudaya tinggi dalam mencermati alam semesta sejak ribuan tahun yang lalu dan
sebagai evaluasi untuk mengingatkan kembali sebagai manusia beragama bahwa bumi ini
juga adalah mahluk ciptaan Allah SWT, seperti; matahari, bintang, planet dan bendabenda
angkasa lainnya mengisyaratkan bahwa bumi pun ingin berkomunikasi kepada
kita, ingin diperhatikan, ingin dipelihara. Oleh karena itu menjaga dan memelihara
lingkungan hidup ini tidak hanya sekedar semboyan atau simbolis saja, lebih penting dari
itu bagaimana penerapan di lapangan.

Perubahan-perubahan alam memang perlu dilakukan tetapi jangan sampai terjadi
pengrusakan tatanan yang sudah ada. Misalnya Daerah Aliran Sungai (DAS) sepenting
apapun penggunaan lahan pada pinggiran sungai jangan memberikan toleransi ijin kepada
masyarakat yang akan menggunakan untuk tempat tinggal, atau tempat yang tidak ada
hubungannya dengan sungai tersebut. Perlu dipertimbangkan dampak buruk yang akan
terjadi yang akan menjadi boomerang bagi mereka dan bagi pemberi ijinnya. Contoh lain
hutan di hulu sungai, boleh saja ditata, tapi bila sudah mengarah dikelola, lain lagi
ceritanya, bisa-bisa karena dengan alasan kebutuhan habis dibabat oleh manusia yang
tidak bertanggung jawab. Hutan ya hutan jangan diganti komoditas lain. Apapun alasan
dan kebutuhannya.

Contoh lain, seperti hama dan penyakit tanaman, seperti tikus, wereng, kutu
loncat, virus, bakteri atau apapun namanya keberadaan mereka sudah ada dan sudah
sebagai pengganggu, hanya karena kita sebagai manusia yang membuat mereka menjadi
tidak seimbang kehidupannya. Apakah kita mungkin bisa memusnahkannya dari muka
bumi ini?
Suatu hal yang mustahil!, sampai kiamatpun yang namanya hama penyakit itu
akan tetap ada. Jadi yang penting bagaimana kita mengupayakan agar keseimbangan
hidupnya terjaga, populasinya tidak terganggu. Contoh hewan liar di hutan atau padang
rumput. Mereka ada pemangsa dan yang dimangsa itu bukan masalah buas atau lemahnya
hewan, melainkan suatu proses keseimbangan yang sudah diatur oleh yang Maha
Pencipta.

Akhirnya semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pengguna dan mudahmudahan
bencana, musibah atau malapetaka yang diakibatkan oleh kekeliruan kita
terhadap pengelolaan alam ini segera dapat dihindarkan bahkan dapat dicegah
sebelumnya.

D e d i k W i r i a d i w a n g s a
Penulis adalah Staf Puslitbang Tanaman Pangan
Dimuat pada Tabloid Sinar Tani, 9 – 15 Maret 2005

0 komentar:

Poskan Komentar