Sabtu, 16 Mei 2009

KAJIAN KANDUNGAN ISI NASKAH SERAT PEDHALANGAN RINGGIT PURWA I DAN RELEVANSINYA TERHADAP PENDIDIKAN MORAL

Oleh : Dhidhik Setiabudi



ABSTRAK


Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan naskah Pedhalangan Ringgit Purwa I sebagai hasil karya KGPAA Mangkunegara VII dan Kangjeng Pangeran Arya Kusumadiningrat di Surakarta. Deskripsi yang dilakukan ditinjau dari deskripsi aspek pernaskahan dan aspek perteksan serta butir-butir pendidikan moral yang ada.
Langkah kerja yang dilakukan perdeskripsian naskah ini adalah meengikuti langkah-langkah kerja filologis yang kemudian akan dicari relevansinya terhadap nilai-nilai moral. Langkah awal kerja filologis yang dilakukan dalam penelitian ini ialah membuat deskripsi naskah, yaitu menjelaskan keadaan fisik naskah. Langkah selanjutnya adalah membaca teks sambil dialihaksarakan dan diakhiri dengan terjemahan teks. Setelah itu baru dilaksanakan pemaknaan teks dan analisis berdasarkan nilai-nilai moral yang ada.
Hasil akhir dari penelitian ini adalah ditemukan tentang seluk beluk aksara Jawa. Kandungan isi naskah Serat Pedhalangan Ringgit Purwa I dapat dikelompokkan dalam tiga kategori dan sekaligus dapat menjadi butir pendidikan moral, yaitu (1) pendidikan moral yang berhubungan dengan kepribadian, (2) pendidikan moral yang berhubungan dengan etika, dan (3) pendidikan moral yang berhubungan dengan kepemimpinan. Relevansinya terhadap pendidikan moral adalah memberikan nasihat kepada semua orang agar dalam melakukan tindakan tidak menggunakan emosi dan kebohongan belaka; etika memberi ajaran pada manusia agar dalam bertindak masih menggunakan etika. Karena manusia yang mempunyai etika, berarti manusia itu juga mempunyai budi pekerti, tata krama dan lain sebagainya yang dapat menjadi tolok ukur pada kehidupannya dalam melakukan tindakan; memberikan bekal kepemimpinan kekurangan dan kelebihan pemimpin, membentuk kepercayaan prajuritnya, membuat peraturan yang sesuai dengan kemanusiaan dan dapat membuat ketaatan kepada rakyatnya. Seorang pemimpin harus dapat memimpin dengan adil dan bijaksana, sehingga dapat mewujudkan ketentraman dan kedamaian.


Kata kunci : naskah, Pedhalangan Ringgit Purwa, KGPAA Mangkunegara VII, pendidikan moral



1.Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan bangsa yang memiliki banyak kebudayaan, salah satunya kebudayaan Jawa. Adapun peninggalan kebudayaan Jawa yang masih dilestarikan keberadaannya berbentuk tulisan yaitu naskah. Naskah sebagai hasil karya tulisan nenek moyang dan merupakan peninggalan masa lampau. Naskah tersebut ditulis diatas bahan tulis yang beraneka ragam, seperti gendhong, daluwang, dan kertas yang didatangkan dari Eropa.
Berbagai kebudayaan yang ada pada masa lampau banyak terekam dalam tulisan berbentuk naskah. Dengan menganalisis ataupun mengkaji naskah dapat diketahui kesenian dan sastra, tradisi, nilai-nilai, adat istiadat, maupun peristiwa dimasa lampau. Masyarakat Jawa sangat suka pada kesenian dan sastra, terbukti dengan banyaknya naskah yang berisikan hal tersebut. Misalnya : tembang, wayang / pedalangan, tari, cerita, dan masih banyak lagi.
Seni dan sastra Jawa maupun tradisi dan berbagai aspek kebudayaan masa sekarang tidak banyak berbeda dari seni dan sastra Jawa maupun tradisi dan berbagai aspek kebudayaan pada masa lampau. Sehingga dapat dikatakan bahwa masyarakat Jawa masih melestarikan kebudayaan nenek moyang mereka. Banyak nilai-nilai dan pandangan hidup yang masih diwarisi dan dilestarikan. Seni wayang / pedalangan yang berisi pendidikan moral juga masih sering digelar dan dikembangkan untuk memberikan ajaran moral. Terlebih lagi masa sekarang ini moral bangsa Indonesia dapat dikatakan mengalami kemerosotan.
Diantara pada adipati di Mangkunegaran, KGPAA Mangkunegara VII adalah seorang pujangga yang aktif dalam menelurkan karya sastra pewayangan. KGPAA Mangkunegara VII bertahta antara tahun 1916 – 1944. Beliau produktif dalam menciptakan karya sastra yang bertopik tentang lakon pewayangan. Lakon pewayangan dari pakem balungan untuk daerah Surakarta bersumber dari Serat Pedhalangan Ringgit Purwa karya KGPAA Mangkunegara VII (Soetarno, 1995: 29). Karya KGPAA Mangkunegara VII di atas menjadi acuan para dalang di daerah Surakarta dan pendukungnya. Nama kecilnya yaitu Raden Mas Suryasuparta, putra ketiga KGPAA Mangkunegara V. Beliau lahir pada tanggal 4 Sapar 1815 H atau 12 November 1885. Beliau wafat pada tanggal 19 Juli 1944. Rupanya Mangkunegara VII mewarisi bakat kepujanggan kakeknya yaitu Mangkunegara IV. Selain seorang sastrawan dan seniman, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII merupakan seorang yang sangat baik dan bijak serta seorang aktivis. Beliau pernah menjabat sebagai ketua PB Boedi Oetomo pada tahun 1916 sebelum diangkat menjadi Mangkunegara VII. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII terkenal sebagai manajer yang cerdas dalam usaha-usaha ekonomi (antara lain mendirikan Pabrik Gula Colomadu dan Tasikmadu), serta visioner dalam berbagai persoalan sosial termasuk lingkungan (membangun waduk dan jaringan rel kereta tebu), selain sebagai budayawan.
Waduk Plumbon di Kecamatan Eromoko dan waduk Kedunguling di Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, dikenang sebagai peninggalan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII. Waduk itu dibangun selama 10 tahun dari tahun 1918-1928. Keberadaan kedua waduk itu sebagai balas jasa Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII kepada rakyat setempat yang sebelumnya banyak berperan menjadi tukang pada pembangunan pendapa agung Mangkunegaran (rumah pendapa terbesar di Indonesia). Beliau memberikan hadiah berupa dua waduk sebagai prasarana irigasi untuk memakmurkan masyarakat Eromoko dan Wuryantoro. Beliau sangat memperhatikan serta dekat dengan alam sekitar dan masyarakat.
Hal diatas juga berpengaruh pada rasa seni dan penciptaan karya sastranya. Karya-karya buatan beliau banyak mempengaruhi dan dipakai sebagai referensi budayawan lain, baik pada masa beliau maupun sampai sekarang. Serat Pedhalangan Ringgit Purwa karya KGPAA Mangkunegara VII yg terdiri dari 37 jilid berisi 177 lakon dan terbagi 4: cerita dewa (7 lakon), cerita Arjuna Sasrabahu (5 lakon), cerita Ramayana (18 lakon), cerita Pendhawa Kurawa (147 lakon). Jilid I (Ngruna-ngruni watugunung| Mumpuni | Mikukuhan), jilid II (Sri Maha Punggung | Sri Mantun-Murwakala), jilid III (Sang Hyang Wisnu Krama | Bremana-Bremani Manumayasa Rabi | Bambang Kalingga | Jamurdipa atau Sekutrem Rabi), jilid IV (Palasara Lahir atau Sari Rabi | Palasara Krama | Citranggada Rabi | Pandu Lahir), jilid V (Narasoma Rabi| Puntadewa Lahir | Suyudana Lahir | Bima Bungkus), jilid VI (Arjuna Lahir | Raden Yamawidura Krama | Basudewa Rabi | Kangsa Lahir atau Basudewa Grogol | Lahiripun Kakrasana Narayana | Kangsa Adu Jago), jilid VII (Arya Prabu Rabi | Ugrasena Rabi | Bambang Sucitra Rabi | Pandan Papa | Palgunadi | Pendhawa Apus), jilid VIII (Arjuna Papa | Bondhan Peksa Jandhu | Bale Sigalagala | Seta Krama | Rabinipun Untara-Wratsangka), jilid IX (Babad Wanamarta | Arimba-Arimbi | Gandamana Sayembara | Mustakaweni-Kuntul Wilanten), jilid X (Lambangkara | Pancawala Larung | Antasena Lahir | Gathutkaca Lahir | Pregiwa - Pregiwati), jilid XI (Gathutkaca Rabi-Sasikirana | Gathutkaca Dadi Ratu Brajadenta-Brajamusti atau Gathutkaca Sungging | Sridanta), jilid XII (Tugu Wasesa | Sena Rodra | Ganda Wardaya | Semar Barang Jantur atau Kartawiyoga Maling), jilid XIII (Parta Krama | Lambangkara | Sembadra Larung | Bambang WIjanarka | Murca Lelana | Kitiran Petak), jilid XIV (Mayanggana-Sindusena | Cekel Indralaya | Sidajati-Sidamalong | Manu Maya), jilid XV (Pandhu Bregala-Bambang Margana | Sukma Ndadari-Sumong | Bambang Manon Bawa), jilid XVI (Parta Wigena atau Makutharama | Wahyu Cakraningrat | Peksi Jawata | Taman Maerakaca | Srikandhi Maguru Manah | Cakra Negara), jilid XVII (Kandi Hawa | Nirbita | Jalasegara | Turanggajati | Randha Widada), jilid XVIII (Swarga Bandhang | Alap-alapan Larasati | Alap-alapan Ulupi | Semboto-Senggono), jilid XIX (Irawan Maling | Gambir Anom | Bambang Jaganala | Irawan Rabi | Alap-alapan Gandawati), jilid XX (Sumitra Rabi | Udan Mintaya | Seti Wijaya | Arjuna Sendhang), jilid XXI (Nakula Rabi | Candrageni | Sadewa Rabi | Candrasasi | Pramusinta), jilid XXII (Derwa Kasimpar | Semar Minta Bagus | Semara Papa | Dwila Warna), jilid XXIII (Kresna Kembang | Kresna Pujangga | Kresna Begal | Samba Rajah | Bambang Sutera), jilid XXIV (Samba Ngengleng | Bomantaka | Sugatawati-Sugatawati Dhaup | Endhang Wediningsih | Setyaki Rabi), jilid XXV (Suyudana Rabi | Dursilawati Ical | Peksi Anjali Retna), jilid XXVI (Suryatmaja Rabi | Dana Salirta | Kumbayana | Durna Tapa), jilid XXVII (Candha Birawa | Pendhawa Puter Puja | Darma Birawa | Arjuna Terus), jilid XXVIII (Wisanggeni Lahir | Bambang Manon Manonton | Pendhawa Dhadhu | Pancawala Ngarit), jilid XXIX (Mintaraga | Parta Dewa | Arjuna Wibawa | Cendreh Kemasan), jilid XXX (Kalabendana Lena | Rara Temon | Jagal Abilawa Pendhawa Gubah | Kresna Duta), jilid XXXI (Jabelan | Kresna Gugah | Bisma Lena), jilid XXXII (Angkawijaya Lena | Jayadrana Lena | Burisrawa Lena | Gathutkaca Lena | Dursasana Lena), jilid XXXIII (Karna Lena | Suyudana Gugur | Parikesit Lahit), jilid XXXIV (Parikesit Grogol | Yudayana Ical), jilid XXXV (Bedhahipun Lokapala | Arjuna Wijaya | Sumantri Ngenger | Sumantri Gugur | Arjuna Sasra Gugur), jilid XXXVI Bedhahipun Ngayodyapala | Dasarata Rabi | Sinta Lahir | Prabu Rama Krama | Rama Tundhung | Anoman Duta | Rama Tambak | Anggada Duta | Bukbis), jilid XXXVII (Trikaya Lena | Trisirah Lena | Kumbakarna Gugur | Megananda Gugur | Dasamuka gugur | Sinta Boyong | Rama Obong | Rama Nitik | Rama Nitis).
Naskah Pedhalangan Ringgit Purwa I merupakan karya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII yang berisi atau berjenis tentang wayang. Naskah ini dapat diungkap menggunakan kajian Filologi. Kemampuan mengkaji dapat dikelompokkan ke dalam dua faktor, yaitu faktor pernaskahan dan perteksan. Faktor pernaskahan dimanfaatkan untuk mengetahui keadaan fisik naskah, antara lain format bentuk naskah dan teks, bahasa, tulisan, dan kelengkapan isi. Faktor perteksan dimanfaatkan untuk mengetahui bagaimana uraian dan urutan isi kendungan naskah (Mulyani, 2008:34)

2. Tujuan Penelitian
Pokok masalah dalam penelitian ini berkaitan dengan kandungan isi naskah Serat Pedhalangan Ringgit Purwa I dan relevensi isi naskah terhadap nilai-nilai pendidikan moral. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kandungan isi naskah Serat Pedhalangan Ringgit Purwa I dan relevansi isinya terhadap nilai-nilai pendidikan moral jaman sekarang.



3.Landasan Teori
Sumber data teks naskah Pedhalangan Ringgit Purwa I berupa naskah cetak. Sedangkan teori yang digunakan sebagai acuan adalah pendekatan filologis, yaitu pendekatan yang berdasarkan pengetahuan yang mencakup bidang kebahasaan, kesastraan, dan kebudayaan. Disamping itu filologi juga berarti ilmu pengetahuan tentang segala sesuatu yang pernah diketahui orang (August Boekh dalam Renne Wellek, 1956:38) dan dengan ilmu filologi berbagai macam segi kehidupan masa lampau semua aspeknya dapat diketahui secara eksplisit melalui naskah.
Setiap ilmu mempunyai objek penelitian. Jadi objek penelitian filologi adalah naskah dan teks. Naskah adalah karangan yang masih ditulis dengan tangan, sedangkan naskah cetak adalah karangan yang sudah ditulis dengan cetak. Dengan demikian, naskah cetak Jawa Serat Pedhalangan Ringgiti Purwa adalah karangan yang ditulis dengan cetak, beraksara Jawa, berbahasa Jawa, ditulis diatas kertas dengan tinta hitam berisi nilai-nilai pendidikan moral. Arti teks sendiri adalah bahan tertulis untuk memberikan pelajaran (KBBI), misalnya seperti pendidikan moral yang ada dalam isi serat ini.
Sesuai dengan pernyataan diatas, teori-teori yang digunakan dalam penelitian dengan kajian filologi adalah teori yang berhubungan dengan pernaskahan (deskripsi naskah, teori pembacaan naskah beraksara Jawa, alih aksara dengan metode transliterasi ortografi sekaligus dilakukan suntingan teks, serta pemaknaan kandungan isi naskah).
Dalam keadaannya sebagai ciptaan sastra lama atau kuno, naskah Pedhalangan Ringgit Purwa I dapat dipelajari oleh pembaca masa kini melalui sejumlah naskah salinan. Dalm hal ini pengamatan perlu dilakukan dengan memanfaatkan metode filologi yakni filologi tradisional (kegiatan filologi yang menitikberatkan penelitian kepada bacaan yang rusak atu yang sudah lama). Adapun dasar dan metode itu adalah bahwa suatu teks akan berubah dalam penurunannya (Chamah-Soeratno, 1991:12). Untuk memudahkan pembacaan, terlebih dahulu teks dialihaksarakan dengan metode transliterasi ortografi (pengalihaksarakan dari abjad satu ke abjad yang lain).
Teks dalam naskah Pedhalangan Ringgit Purwa I disampaikan dengan media bahasa Jawa. Oleh karena itu, perlu dilakukan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia, tujuannya agar teks itu dapat dipelajari oleh peminat naskah Jawa yang tidak akrab dengan bahasa Jawa tetapi ingin mengetahui isinya.
Setelah butir-butir pendidikan moral yang ada dalam kandungan isi naskah Serat Pedhalangan Ringgit Purwa tersedia, kemudian dicari relevansinya terhadap nilai-nilai moral saat ini. Berdasarkan uraian kajian teori tersebut dapat dirumuskan kerangka kerja penelitian kajian kandungan isi naskah Pedhalangan Ringgit Purwa dan relevansinya terhadap nilai-nilai moral.
Deskripsi naskah itu disajikan dengan mengamati 2 hal yaitu:
a. Deskripsi fisik naskah yang meliputi judul teks, uraian penutup teks, pengarang, bahan naskah, keadaan naskah, jumlah halaman, ukuran naskah dan teks.
b. Deskripsi non fisik naskah/ teks yaitu kerangka teks yang memberikan gambaran secara umum yang terdiri atas isi dan penutup.
Tahap yang terakhir adalah terjemahan teks. Terjemahan teks dilakukan dengan menggunakan metode terjemahan harfiah(mempertahankan kata yang ada dalam teks) dan terjemahan bebas (mengutarakan isi teks secara bebas).

B.Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode filologis (metode yang dipergunakan untuk mengungkap dan mendeskripsikan subjek penelitian yang berupa naskah). Adapun subjek dalam penelitian ini adalah naskah dan teks Serat Pedhalangan Ringgit Purwa I. Naskah dan teks tersebut dimuat dalam KGPAA Mangkunegara VII dan Kangjeng Pangeran Arya Kusumadiningrat di Surakarta. Untuk menemukan nilai-nilai moral dalam naskah Pedhalangan Ringgit Purwa I dilakukan dengan pembacaan intensif dan pencatatan.
Analisis data dilakukan dengan teknik deskriptif kualitatif. Adapun langkah-langkahnya adalah deskripsi naskah yang dilakukan dengan cara memaparkan atau menggambarkan dengan kata-kata secara jelas dan terperinci mengenai kondisi fisik naskah dan nonfisik naskah (Mulyani, 2008:38).
Keabsahan data diperoleh melalui kesahihan dan kehandalan. Kesahihan yang dipergunakan adalah kesahihan semantik, yaitu untuk melihat saberapa jauh data yang menguraikan butir-butir pendidikan moral pada naskah Serat Pedhalangan Ringgit Purwa I dapat dimaknai sesuai dengan pendidikan moral jaman sekarang. Kehandalan yang dipergunakan adalah kehandalan baca dan kaji ulang (intra-rater).

C.Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Fisik Naskah
1) Tempat penyimpanan : Perpustakaan Daerah Yogyakarta
2) Judul naskah : Serat Pedhalangan Ringgit Purwa Jilid I
3) Ukuran : - panjang naskah : 29,2 cm
- lebar naskah : 30 cm
- panjang teks : 20,7 cm
- lebar teks : 13,4 cm
4) Tebal : 0,7 mm
5) Ukuran kertas : - kiri : 2,4 cm
- kanan : 2,7 cm
- atas : 4 cm
- bawah : 4,5 cm
6) Jumlah halaman : 34 halaman
7) Jumlah baris : hal 5-9 : 20 baris hal 10 : 8 baris
hal 11 : 17 baris
8) Bahasa : Jawa Pertengahan
9) Huruf : Jawa
10) Warna tinta : hitam
11) Karakteristik tulisan : Jawa cetak
12) Ukuran huruf : kecil
13) Jenis naskah : prosa
14) Keadaan kertas : kertas berwarna coklat, pada halaman belakang terdapat kertas yang sobek.
15) Keterangan lain :
- tulisan ditulis bolak-balik
- ditulis menggunakan kertas tak bergais
- pengkait lembaran naskah menggunakan tali yang mirip dengan benang
- sampul terbuat dari kertas berwarna coklat
- pada bab I hal 5 terdapat gambar wayang Dewi Ngruna, hal 7 terdapat gambar wayang Dewi Ngruni, hal 10 terdapat gambar Peksi Jathayu

2.Hasil Penelitian
Penelitian ini berusaha mengungkapkan lakon pewayangan dalam Serat Ringgit Purwa karya KGPAA Mangkunagara VII. Misal lakon Ngruna Ngruni, Prabu Sengakan Turunan, Sang Hyang wisnu, Sang Hyang Guru, dan lain-lain.
Selanjutnya hasil penelitian dalam bentuk tabel sesuai dengan permasalahan peneliltian yang telah ditetapkan. Hasil penelitian mencakup : (1) Deskripsi kandungan isi naskah wayang, (2) Relevansi isi naskah wayang terhadap nilai-nilai moral, dan (3) Alih tulis aksara jawa.
Hasil penelitian yang mencakup deskripsi kandungan isi naskah wayang ditampilkan dalam tabel I sebagai berikut :

Tabel I : Deskripsi Kandungan Isi Naskah Wayang.
No Kandungan Isi Acuan Data
1.Pendidikan moral yang berhubungan dengan kepribadian Sareng dipun celaki katingal purusipun lajeng merang. Peksi kakalih tuwin sawer sadaya sampun sami marak kang ibu, sareng sumerep kang ibu Dewi Ngruni kalingseman, sawer alit-alit sami nyakoti peksi kakalih wau, nanging sawer kathah ingkang pejah dipun cucuki, ingkang ibu Dewi Ngruni duka,...
2.Pendidikan moral yang berhubungan dengan etika Dewi Uma, pinarak para widadari, angentosi kondurira Sang Hyang Girinata, dereng dangu Sang Hyang Girinata kondur, ingkang garwa methuk ing jawi wiwara, lajeng lenggah satata, ngandikaken kawontenanipun ing Poncowati.
3.Pendidikan moral yang berhubungan dengan kepemimpinan Ing Bale marcukundha, Sang Hyang Narada, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Sriyana, tuwin Sang Hyang Patuk Tamboro, para jawata pepak mungging ngarsa, ingkang rinembag : siyaga ing damel para jawata ingkang sapalih tengga Kahyangan ingkang sapalih bidhal dhateng Repat Kapanasan.

3.Pembahasan
Karya satra Jawa merupakan wujud kebudayaan yang dianggap sebagai benda hasil karya manusia. Dengan demikian, sastra dianggap sebagai perwujudan kehidupan manusia. Nilai-nilai pendidikan moral merupakan salah satu perwujudan dari kehidupan manusia tersebut dan dimanfaatkan sebagai bahan penulisan dalam karya sastra, yaitu naskah Serat Pedhalangan Ringgit Purwa I. Nilai-nilai pendidikan moral itu merupakan nilai-nilai dasar dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai dasar tersebut meliputi nilai-nilai kehidupan manusia secara horisontal, yaitu interaksi manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesamanya dan dengan lingkungan yang ikut beperan dalam proses pendidikan.
Oleh karena itu nilai-nilai yang ada dalam naskah Serat Pedhalangan Ringgit Purwa I adalah nilai-nilai dasar yang tentunya masih relevan dengan dunia pendidikan moral masa kini. Nilai-nilai dasar dalam tatanan kehidupan manusia ini dapat ditularkan dari kelompok masyarakat satu ke kelompok masyarakat lain dan dapat diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya.


1)Deskripsi Kandungan Isi Naskah Serat Pedhalangan Ringgit Purwa I
a.Pendidikan moral yang berhubungan dengan kepribadian
Dalam naskah Serat Pedhalangan Ringgit Purwa I ada beberapa butir pendidikan. Pertama, pendidikan moral yang berhubungan dengan kepribadian yaitu pendidikan yang berhubungan dengan nilai-nilai kehidupan manusia yang bersifat pribadi atau yang ada dalam diri manusia itu sendiri. Hal ini ditunjukkan dalam acuan data berikut ini.

Sareng dipun celaki katingal purusipun lajeng merang. Peksi kakalih tuwin sawer sadaya sampun sami marak kang ibu, sareng sumerep kang ibu Dewi Ngruni kalingseman, sawer alit-alit sami nyakoti peksi kakalih wau, nanging sawer kathah ingkang pejah dipun cucuki, ingkang ibu Dewi Ngruni duka,...

Terjemahan:
Setelah didekati terlihat kemaluannya, kemudian marah. Kedua burung dan ular semuanya mendekati ibunya, setelah tahu ibu Dewi Ngruni dibohongi, ular kecil-kecil menggigit kedua burung itu, tapi ular banyak yang mati karena dicucuki, yang kemudian ibu Dewi Ngruni marah,...

Acuan data diatas menunjukkan adanya penekanan butir pendidikan moral yang berhubungan dengan kepribadian. Kepribadian ini mencakup perbuatan atau tingkah laku manusia dalam tindakannya yang didorong oleh akal budi yang menghasilkan perbuatan baik dan buruk. Pada umumnya manusia mempunyai pengetahuan akan adanya baik dan buruk. Sedangkan pengakuan manusia mengenai baik dan buruk itu merupakan kesadaran moral seseorang.

b.Pendidikan moral yang berhubungan dengan etika
Dalam subbab ini ada butir pendidikan yang kedua, adalah pendidikan moral yang berhubungan dengan etika, yaitu pendidikan yang berhubungan dengan nilai-nilai kehidupan manusia yang mencakup tata krama, budi pekerti, sopan santun dan sebagainya. Hal itu ditunjukkan dalam acuan data sebagai berikut :

Dewi Uma, pinarak para widadari, angentosi kondorira Sang Hyang Girinata, dereng dangu Sang Hyang Girinata kondur, ingkang garwaa methuk ing jawi wiwara, lajeng lenggah satata, ngendikaken kawontenanipun ing Poncowati.

Terjemahan:
Dewi Uma, mempersilahkan duduk kepada para bidadari, menunggu kepulangan Sang Hyang Girinata, belum lama Sang Hyang Girinata pulang, istrinya menjemput diluar pintu, kemudian duduk secara tertata rapi, membicarakan keberadaannya di Poncowati.

Acuan data diatas menunjukkan adanya penekanan butir pendidikan moral yang berhubungan dengan etika. Etika menerangkan apa yang seharusnya dan semestinya dilakukan manusia terhadap orang lain. Etika ini menganjurkan kepada manusia agar dirinya bersedia bertindak rendah hati kepada sesama hidup, hormat kepada yang lebih tua, dan mengasihi kepada yang lebih muda.

c.Pendidikan moral yang berhubungan dengan kepemimpinan
Dalam serat ini, butir pendidikan yang ketiga adalah pendidikan moral yang berhubungan dengan kepemimpinan, yaitu pendidikan yang berhubungan dengan kepemimpinan seorang raja dengan prajuritnya. Hal ini dapat ditunjukkan dalam acuan data sebagai berikut.

Ing Bale marcukundha, Sang Hyang Narada, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Sriyana, tuwin Sang Hyang Patuk Tamboro, para jawata pepak mungging ngarsa, ingkang rinembag : siyaga ing damel para jawata ingkang sapalih tengga Kahyangan ingkang sapalih bidhal dhateng Repat Kapanasan.

Terjemahan:
Di Bale marcukundha, Sang Hyang Narada, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Sriyana, dan Sang Hyang Patuk Tamboro, para prajurit lengkap berada didepan, yang memusyawarahkan: mempersiapkan para prajurit yang separuh menunggu kahyangan yang separuh pergi ke Repat Kapanasan.

Seorang pemimpin harus memiliki bekal pengetahuan secara lahir dan batin, yaitu apabila seorang pemimpin atau raja membuat peraturan dapat diterima oleh pengikutnya atau prajurit. Dengan demikian mereka akan taat dan mematuhinya. Seorang pemimpin juga wajib membuat peraturan yang sesuai dengan perikemanusiaan. Artinya, peraturan yang dibuat tidak memberatkan rakyatnya dan diberlakukan sama untuk setiap rakyatnya.

2) Relevansi Isi Naskah Serat Pedhalangan Ringgit Purwa I terhadap Pendidikan Moral
Berdasarkan tiga butir nilai pendidikan moral yang ada dalam kandungan isi naskah Serat Pedhalangan Ringgit Purwa I yaitu:
1.pendidikan moral yang berhubungan dengan kepribadian,
2.pendidikan moral yang berhubungan dengan etika, dan
3.pendidikan moral yang berhungan dengan kepemimpinan,
relevansinya dengan dunia pendidikan adalah sebagai berikut.
Pertama, manusia sebagai makhluk individu mempunyai kepribadian masing-masing. Ada yang memiliki kepribadian baik dan buruk. Pada acuan data yang menunjukkan pendidikan moral yang berhubungan dengan kepribadian, bertujuan memberikan nasihat kepada semua orang agar dalam melakukan tindakan tidak menggunakan emosi dan kebohongan belaka. Tetapi tindakan itu harus sesuaia dengan kebenarannya. Nasihat ini juga dapat dimanfaatkan dan dilaksanakan atau digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin hal ini dapat melatih kita untuk lebih bersabar dalam menghadapi permasalahan dan dapat melatih kita untuk berbuat jujur.
Kedua, pada acuan data tentang pendidikan moral yang berhubungan dengan etika memberi ajaran pada manusia agar dalam bertindak masih menggunakan etika. Karena manusia yang mempunyai etika, berarti manusia itu juga mempunyai budi pekerti, tata krama dan lain sebagainya yang dapat menjadi tolok ukur pada kehidupannya dalam melakukan tindakan. Etika ini baik untuk dimiliki seseorang dan dapat memberikan anjuran kepada manusia agar bersedia untuk bertindak rendah hati kepada sesamanya.
Ketiga, memberikan bekal kepemimpinan kekurangan dan kelebihan pemimpin, membentuk kepercayaan prajuritnya, membuat peraturan yang sesuai dengan kemanusiaan dan dapat membuat ketaatan kepada rakyatnya. Seorang pemimpin harus dapat memimpin dengan adil dan bijaksana, sehingga dapat mewujudkan ketentraman dan kedamaian. Tetapi apabila kewajiban seorang pemimpin tidak diupayakan maka akan mengalami kesengsaraan. Hal ini dapat diibaratkan seperti dalam keadaan berperang, jika kalah akan mendapatkan malu. Oleh karena itu pada acuan data yang ketiga ini menunjukkan suatu strategi yang digunakan pemimpin untuk mencapai keberhasilan atau kemenangan dalam berperang.


D. Kesimpulan dan Saran

1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa teks pada Serat Pedhalangan Ringgit Purwa I ditulis dengan aksara Jawa. Untuk membaca teks ini diperlukan pengetahuan tentang tata tulis aksara Jawa. Tata tulis aksara Jawa tidak mengenal pemisahan kata, yaitu ditulis secara scriptio-continuo, yang mengakibatkan pemisahan kelompok aksara dalam pembentukan kata-kata yang kadang-kadang mengalami kesulitan atau kekeliruan sehingga tidak mustahil mendapatkan arti lain.
Tanda pungtuasi adalah tanda baca yang berfungsi sebagai tanda penuturan kalimat, seperti koma, titik koma, titik, titik dua, tanda tanya, tanda seru, dan tanda petik. Dengan demikian, dalam prosa lebih memperhatikan tanda baca, bukan pemakaian tanda metra.
Deskripsi kandungan isi naskah Serat Pedhalangan Ringgit Purwa I dapat dikelompokkan dalam tiga kategori yang sekaligus menjadi butir pendidikan moral, yaitu: (1) pendidikan moral yang berhubungan dengan kepribadian, (2) pendidikan moral yang berhubungan dengan etika, dan (3) pendidikan moral yang berhubungan dengan kepemimpinan. Sedangkan relevansinya yaitu: memberikan nasihat kepada semua orang agar dalam melakukan tindakan tidak menggunakan emosi dan kebohongan belaka, memberi ajaran kepada manusia agar dalam bertindak masih menggunakan etika, dan bekal kepemimpinan yang dituju adalah membentuk kepercayaan, membuat peraturan, membuat strategi dalam mencapai kemenangan agar terjadi ketentraman dan kedamaian bagi rakyatnya.

2. Saran
Beberapa permasalahan yang berhubungan dengan teks pedalangan belum terjangkau dalam penelitian ini, misalnya tentang pengungkapan bahasa, nilai-nilai yang terkandung. Analisis teks tersebut pun masih dimungkinkan diteliti kembali, sebab mengingat bekal pengalaman pembaca yang berbeda menmungkinkan analisi yang berbeda pula.
Disamping itu, teks pedalangan tersebut masih terbuka untuk diteliti kembali baik itu berdasarkan keilmuan dan kebudayaan, misalnya ilmu kebahasaan didalam teks pedalangan tersebut masih banyak versi tentang bahsa yang digunakan untuk terjemahan.
Mengingat banyaknya keanekaragaman butir, nilai moral yang terkandung dalam naskah-naskah jawa khususnya karya Mangkunagara VII perlu diadakan penelitian kembali agar lebih mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam naskah.






LAMPIRAN







Transliterasi Ortografi


Perangan I
Cariyos ingkang kawitan (Lampahanipun para Dewa)

I.Lampahan Ngruna Ngruni

1.Jejer ing kayangan Jonggring salaka : Sang Hyang Girinata, (Sang Hyang Guru), miyos siniwaka para jawata, mungging Bale Mercukundha, ingkang mungging ngarsa : Sang Hyang Narada, Sang Hyang Kuwara, Sang Hyang Sriyana, Sang Hyang Surya, Sang Hyang Yamadipati, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Patuk, Sang Hyang Tamboro, ingkang rinembag : gegering suralaya, dene wonten nata raseksa nama Prabu Sengkan Turunan badhe anginggahi Suralaya, nedya nyuwun jodho widodari nama Dewi Ngruna tuwin Dewi Ngruni, nata raseksa wau sampun anduta patihipun kanthi prajurit rata danawa, pacak baris wonten ing Repat Kapanasan sarta damel pasanggrahan, ing mangka Dewi Ngruna tuwin Dewi Ngruni wau sampun kaparingaken dados jodhonipun Sang Hyang Surya, dados Sang Hyang Girinata dhawuuh dhateng Sang Hyang Surya kinen angatos-atos tuwin dhawuh dhateng Sang Hyang Narada kinen ambekta para jawata, kanthi prajurit dorandara dhumateng Repat Kapanasan angundurna para Danawa. Lajeng Bibaran.

2.Madeg ing kadhaton : Dewi Uma, pinarak para widadari, angentosi kondurira Sang Hyang Girinata, dereng dangu Sang Hyang Girinata kondur, ingkang garwa methuk ing jawi wiwara,, lajeng lenggah satata, ngandikaken kawontenanipun ing Poncowati.

3.ing Bale Mercukundha, Sang Hyang Narada, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Sriyana, tuwin Sang Hyang Patuk Tamboro, para jawata pepak mungging ngarsa, ingkang rinembag : siyaga ing damel para jawata ingkang sapalih tengga Kahyangan ingkang sapalih bidhal dhateng Repat Kapanasan.
4.Madeg patih Ditya nama Patih Jaksendra, carakanira Prabu Sengkan Turunan, kaliyan para punggawa nama Kala Gajaksa, Kala Jaksina, Kala Jakjara, tuwi Kiyai Togog Saraita. Rembag anggenipun damel pasanggrahan, dereng dangu dhatengipun para jawata sami tumurun anggunturi sela, lajeng prang rame, Patih Jaksendra sawadyanipun sami unggul ing yuda, para jawata sami tutup saketheng.

5.Madeg Kahyangan Ngeka Cakra, Sang Hyang Surya, ingadhep garwa kakalih : Dewi Ngruna Dewi Ngruni, ingkang garwa pinaringan pariksa bab dhawuhipun Sang Hyang Guru, manawi wonten Ratu Danawa anginggahi ing Kahyangan anyuwun jodho garwa kakalih wau, ingkang garwa sami sungkawa. Wusana lajeng matur, manawi anggenipun maringi tigannya tunggalnya tunggal kaengremaken sawer ageng, sapunika sampun netes sadaya, tigan gaduhanipun Dewi Ngruna netes peksi kakalih, ingkang sepuh brondhol, tigan gadhuhanipun Dewi Ngruni netes warni Naga Ageng satunggal, sawer alit-alit kathah. Sang Hyang Surya ngandika: tigan wau paringanipun Sang Hyang Guru. Lajeng sami tinimbalan mangarsa, ingkang warni peksi sempati, ingkang enem kaparingan nami peksi Jahtayu. Sawer naga kaparingan nama Naga Gumbang, sawer ingkang alit-alit nama sawer wisa. Peksi kakalih lajeng, sami saba, Jahtayu lajeng miber kalangan ing gagana, sawer naga dalah sawer alit-alit sami saba sapurug-purug, Dewi Ngruna lajeng batangan (badheyan) : sinten ingkang kawon lajeng ngemong anakipun, Dewi Ngruni sagah, ingkang kinarya badheyan : lembu, kabadheya jaler estrinipun, nanging lembu wau purusipun katekuk dhateng nglakang, Dewi Ngruni ambadhe : estri. Sareng dipun celaki katingal purusipun lajeng merang. Peksi kakalih tuwin sawer sadaya sampun sami marak kang ibu, sareng sumerep kang ibu Dewi Ngruni kalingseman, sawer alit-alit sami nyakoti peksi kakalih wau, nanging sawer kathah ingkang pejah dipun cucuki, ingkang ibu Dewi Ngruni duka, badhe anjemanani peksi kakalih, lajeng dipun sotaken dhateng Dewi Ngruna : yayi Ngruni angrewangi anakira, kok kaya budining diyu. Sanalika Dewi Ngruni santun warni diyu, lajeng nangis sasambat nyuwun aksama. Dhawuhipun Sang Hyang Surya : Dewi Ngruni khadawuhan nyuwun ruwat dhateng Sang Hyang Wisnu, tuwin peksi Jahtayu kinen nyuwita. Lajeng sami pangkat, peksi sempati kadhawuhan martapa ing Redi windu, sawer naga kadhawuhan manggen ing Jaladri dalah kadangipun sawer alit-alit sadaya, lajeng bibaran.

6.Madeg repat kapanasan, para jawata sami rembag angupados sraya. Sang Hyang Narada lajeng pangkat dhateng Ngutara sagara.

7.Madeg kahyangan Ngutara sagara, Sang Hyang Wisnu anuju lenggah, kaadhep parepat tiga : Semar, Nala Gareng, Petruk, rembag denira kahyangan kaancikan menggah saking Parangsari. Kasaru dhatengipun Dewi Ngruni (Denawa estri) kaliyan kang kaputra peksi Jathayu. Dinangu Dewi Ngruni matur purwa duksina, sarta nyuwun waluya jati, warni ya estri ayu malih kados ing nguni. Sang Hyang Wisnu rumaos bilih peksi Jahtayu punika ingkang wayah piyambak amargi ing ngajeng putranipun Sang Hyang Wisnu nama Dewi Kastapi katarimaken peksi Briawan puputra tigan kalih kapundhut Sang Hyang Guru, kaparingaken Sanng Hyang Surya. Dene peksi Jahtayu kasuwunaken suwita ; katampen ; ananging Dewi Ngruni tinuduh dhumateng Nagari Parangsari andustha putrid atmajanipun Prabu Sengkan Turunan kakasih Retna Jathawati, lamun lebda ing karya, benjing badhe ingusadanan mamalanipun, Dewi Ngruni sandika lajeng pangkat.
Sang Hyang Narada rawuh, sasampuning lenggah, ngandika bab pabarisaning para jawata sami kasor, Sang Hyang Narada mundhut tulung. Sang Hyang Wisnu matur sandika, nanging namung ngaturaken susulih peksi jahtayu. Sang Hyang Narada pamit wangsul Jahtayu binekta, parepat tiga sami tumut.

8.Madeg barisan denawa, Patih Jaksendra, tuwin para punggawa denawa, rembag badhe nginggahi Suralaya, badhe anjebol saketheng. Kasaru praptaning mengsah anggunturi sela, para denawa geger, prang rame. Peksi Jahtayu anyamberi saking ngawiyat. Patih Jaksendra pejah, para punggawa kathah kang pejah, sinamber peksi Jahtayu, denawa alit-alit dhadhal, Sang Hyang Narada tuwin Peksi Jahtayu dhateng Ngutara sagara, para jawata bibaran makayangan.

9.Madeg Nagari Parangsari, Prabu Sengkan Turunan pinarak ing pandhapi, kaadhep denawa punggawa, kasaru dhatenging Togog Saraita, atur uninga, manawi Patih Jaksendra dalah punggawa sami pejah dening sarayaning dewa warni peksi nama Jahtayu. Sang Nata salangkung duka, adhawuh dhateng para punggawa denawa kapurih siyaga dadameling prang. Kasaru dhatengipun ingkang garwa nama Retna Diwati atawa tangis atur pairksa manawi ingkang putra Retna Jathawati ical kacidra danawa estri saking gagana, dutanira Sang Hyang Wisnu, ing kahyangan ing Ngutara Sagara. Sang Prabu Sengkan Turunan langkung duka, lajeng pangkat anglurung sawadyanira dhateng Ngutara Sagara.

10.Madeg Ngutara Sagara, Sang Hyang Wisnu, dhatengipun Sang Hyang Narada kaliyan peksi Jahtayu, paring pariksa ungguling ngayuda. Sang Hyang Narada lajeng pamit kondur, kasaru dhatengipun Dewi Ngruni ambekta Dewi Jathawati, badhe kadhaupaken kaliyan peksi peksi jahtayu. Dene Dewi Ngruni ingkang warni diyu lajeng dipun usadani ingusap mukanipun dening Sang Hyang Wisnu, Dewi Ngruni waluya jati sulistya warni kadi ing nguni-uni. Dereng dangu dhatengipun Sang Hyang Surya, salangkung suka mirsa Dewi Ngruni. Sarehning sampun waluya lajeng kasuwun. Sang Hyang Wisnu maringaken nanging Dewi Ngruni boten purun kajiyat puguh saha matur Sang Hyang Wisnu. Satemah sulayaning rembug Sang Hyang Surya lawan Sang Hyang Wisnu apancaraka, Sang Hyang Surya kasor, lumajeng dhateng Jonggring Salaka.

11.Madeg ing Jonggring Salaka, Sang Hyang Guru miyos ingkang mungging ngarsa, Sang Hyang Narada miwah para jawata. Kasaru dhatengipun Sang Hyang Surya, matur lamun. Dewi Ngruni tuwin putrid saking Nagari Parangsari, kapendhet Sang Hyang Wisnu, mangka ingkang unggul ing yuda putranipun ingkang nama Peksi Jahtayu. Sang Hyang Narada, kautus mundhut Dewi Ngruni tuwin putrid boyongan nama Dewi Jathawati,, kabekta dalah Peksi Jahtayu, Sang Hyang Narada pangkat.

12.Madeg Sang Hyang Wisnu, Dewi Ngruni lawan Peksi Jahtayu, Dewi Jathawati. Sang Hyang Wisnu dhawuh dhateng Dewi Ngruni supados puruna mantuk, sarta dhawuh dhateng Peksi Jahtayu badhe kadaupaken angsal Dewi Jathawati. Kasaru rawuhipun Sang Hyang Narada andhuwahaken timbalanipun Sang Hyang Guru, sampun katampen sadaya. Dewi Ngruni, Peksi Jahtayu, Dewi Jathawati, kapundhut kaaturaken sarta sampun kapratelakaken bilih Sang Hyang Wisnu badhe andhaupaken Peksi Jahtayu angsal Dewi Jathawati. Sang Hyang Narada pangkat, Dewi Ngruni, Jathawati, Peksi Jahtayu sami andherek.

13.Madeg ing Jonggring Salaka, Sang Hyang Guru, ngadhep para jawata. Dhatengipun sang Hyang Narada ambekta Dewi Ngruni dhinawuhan manut Sang Hyang Surya, Jathawati kadhaupaken angsal Peksi Jahtayu, Kasaru sang Hyang Patuk sowan mangarsa, atur priksa dhatengipun mengsahh saking Nagari Paranngsari, ingkang angluru putra Dewi Jathawati. Para jawata sami medhal ing jawi, prang sampak, Sang Hyang Bayu mijilaken pangabaran mengsah sirna sadaya.
Mengsah Sang Hyang Guru dalah pisowanira ingkang sami unggul ing yuda. Tancep kayon.




B.Terjemahan


I.Perjalanan Ngruna Ngruni

Sang Hyang Surya, beristerikan dua bidadari, Dewi Ngruna dan Dewi Ngruni, pada suatu hari berkatalah Hyang Surya, “Wahai, isteriku Ngruna dan Ngruni, ketahuilah, Hyang Narada telah datang di Utarasagara, memberitakan bahwa seorang raja yaksa bernama prabu Sengkan Turunan telah melamar kalian berdua kepada kami diseyogyakan berhati-hati”, susahlah kedua isterinya mendengar berita itu.
Syahdan, Dewi Ngruna dan Ngruni oleh Hyang surya diberi telur untuk ditetaskan pada seekor naga, dan menetaslah telur-telur itu. Telur yang ditetaskan oleh Dewi Ngruna menetas menjadi burung, dua ekor jumlahnya, yang tertua tak berbulu, oleh Hyang Surya diberi nama burung Sempati, dan yang muda diberi nama burung Jathayu, adapun telur yang ditetaskan oleh Dewi Ngruni, menetas berwujud seekor naga besar, oleh sang Hyang Surya diberi nama, naga Gumbang, dan lainnya berwujud ular kecil-kecil, oleh Hyang Surya diberi nama ular Bisa.
Pada suatu ketika Dewi Ngruna berkata kepada Dewi Ngruni, “Dinda Ngruni, marilah kita memecahkan teka-teki, siapa yang kalah, berkewajiban merawat anak-anak”, dan bersedialah Dewi Ngruni untuk diajak berteka-teki. Seekrsapi jantan, dimana sengaja kemaluannya dirahasiakan oleh Dewi Ngruna, dinyatakan oleh Dewi Ngruni seekor sapi betina, merasa terkecoh oleh perbuatan Dewi Ngruna marahlah Dewi Ngruni, berkehendak akan mengghajar anak-anak Dewi Ngruna. Marahlah Dewi Ngruna, dan berkata,”Hai, Ngruni, tak pantaslah perbuatannya itu, itu seperti perbuatan raksasa,” dan berubahlah wajah Dewi Ngruni yang semula cantik rupawan, menjadi wajah raksasa, sangat menakutkan. Hyang Surya mengetahuinya, dan menyeyogyakan kepada Dewi Ngruni, untuk memohon maaf kepada Hyang Wisnu supaya dapat kembali wajahnya menjadi cantik, demikian pula burung Jathayu diperintahkan untuk mencari pengabdian, berangkatlah Dewi Ngruni dan burung Jathayu.
Dihadapan Hyang Wisnu Dewi Ngruni menguraikan hal ihwalnya, demikian pula burung Jathayu, dan oleh Hyang Wisnu Dewi Ngruni diperintahkan untuk pergi ke negara Parangsari, dengan tugas menculik anak prabu Ssengkanturunan, yang bernama Retna Jathawati, kalau berhasil akan dikembalikan wajahnya seperti semula, adapun burung Jathayu maksud pengabdiannya diterima oleh Hyang Wisnu, berangkatlah Dewi Ngruni ke negara Parangsari.
Prabu Sengkanturunan mendapatkan laporan, bahwasanya prajurit Parangsari yang mengepung Suralaya dapat dikalahkan oleh burung Jathayu, demikian pula puteri prabu Sengkanturunan, yang bernama Retna Jathawati, ilang diculik oleh seorang raksasa, meluaplah kemarahan sang prabu, dan segera memerintahkan untuk menggempur Utarasagara, demikian pula Suralaya.
Burung Jathayu yang menjadi jagonya para dewa dapat mengalahkan patih Jaksendra, Hyang Bayu dengan mengeluarkan aji pangabaran melrutkan para danawa dari Parangsari, menanglah para dewa bertanding dengan prabu Sengkanturunan dan wadyabalanya. Di Jonggringsalaka, Hyang Guru berkata kepada Dewi Ngruni,”Hai, Dewi Ngruni, kembalilah kau kepada suamimu Hyang Surya, demikian pula kau Jathayu, kukawinkan kamu dengan Retna Jathawati, terimalah”, seluruh isi kayangan Jonggringsalaka bersuka cita merayakan kemmenangannya.

0 komentar:

Poskan Komentar